FC Barcelona menjual pemain bintang karena tisu toilet

FC Barcelona merupakan salah satu klub terbaik dunia. Semua pemain bola ingin bergabung dengan klub yang bermarkas di Camp Nou Stadium tersebut. Namun meskipun Los Blaugrana dijuluki sebagai klub terbaik, bukan berarti mereka tidak punya cerita kejam terhadap pemainnya. Kejadian ini berawal dari masalah sepele yaitu tisu toilet yang berbuntut FC Barcelona menjual pemain terbaiknya.

Nasib tragis ini dialami oleh gelandang asal Belanda, Johan Neeskens. Pemain Barcelona tersebut dibuang oleh Presiden Barcelona Jose Luis Nunes pada tahun 1979 dengan alasan yang tidak masuk akal.

Kisah ini terjadi pada 1978, setelah pertandingan Los Blaugrana menghadapi Hercules di Alicante Rico Perez Stadium selesai dilangsungkan. Di ruang ganti pemain, Neeskens dan Nunes ternyata ingin buang air. Secara kebetulan keduanya memilih toilet yang bersebelahan. Sialnya, bilik tempat Nunes kehabisan tisu toilet. Kemudian sang Presiden itu meminta tisu kepada Neeskens. Melihat peluang untuk ‘mengerjai’ Sang Bos, Neeskens tidak memberikan tisu tersebut. Dia berniat ingin melempar gurauan kepada Nunes. Namun tak disangka, gurauan Neeskens tersebut dianggap serius oleh si Bos dan kenyataan pahit pun harus dialaminya.

Saat bursa transfer dibuka, Nunes memutuskan untuk menjual Neeskens yang sedang berada di masa jayanya. Tidak tanggung-tanggung, Neeskens dibuang ke klub MLS, New York Cosmos. Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Padahal, saat itu Neeskens adalah salah satu bintang bersinar Barcelona. Selama lima musim, dia mencatatkan 35 gol dari 140 penampilan. Bahkan Neeskens sempat mendapat gelar pemain asing terbaik di La Liga tahun 1976.

Namun Neeskens tetap tidak kehilangan sinarnya meski sudah diasingkan oleh Barcelona. Bersama New York Cosmos, Neeskens menjuarai Piala Winners dan menjadi idola baru di sana. Mungkinkah kejadian konyol seperti ini akan terjadi lagi?

 

Nanda Widyatama

Seorang web developer. Gemar diajak kuliner. Suka fotografi. Sering ngedit sana ngedit sini. Suami yang siaga.