Rumput tetangga lebih hijau

Pernah dengar pepatah rumput tetangga lebih hijau? Anda yang sudah pernah mengenyam Wajib Belajar 9 tahun pasti pernah mendengarnya. Ya paling tidak pernah lah dengar orang tua atau saudara menyebut pepatah ini.

Pepatah ini ingin memberitahukan kita bahwa pada dasarnya manusia tidak pernah puas terhadap apa yang dimilikinya. Kita punya motor misalnya, suatu ketika tetangga/teman punya motor baru, pasti – walaupun sekejap – kita sempat merasa iri, “Duh motornya kok bagus juga ya” padahal motor kita aja yang ga pernah dirawat.
Saya pun sebagai seorang web developer, kadang merasa iri dengan hasil kerja teman-teman saya, kok bisa ya mereka membuat yang lebih bagus, walaupun saya yakin mereka pun kadang akan berpikiran sama terhadap karya saya.
Apakah itu sifat iri? Ya benar.

Iri (ingin) itu tidak salah selama masih menjadi kata sifat, yang dinilai salah atau benar adalah tindak lanjut dan sikap kita terhadap hal itu.

Hanya ada satu sifat ingin yang dinilai salah atau berdosa (menurut agama yang saya anut) yaitu mengingini istri/suami sesamamu. (baca: 10 perintah Allah)
Nah terkadang penilaian salah adalah cara kita menyikapinya dengan tidak bijak. Berusaha menyaingi hanya sekedar untuk kepuasan diri, berusaha merusak/merebut milik orang lain, itu beberapa contoh tindak lanjut yang salah.
Lalu bagaimana cara yang dinilai benar? Menurut saya, cara yang benar adalah introspeksi diri, ukur kemampuan diri, hitung tingkat prioritas dan urgenitas, rundingkan dengan pasangan/keluarga anda.
Sama halnya dua sejoli yang memutuskan untuk menikah, alangkah baiknya jika keputusan itu berdasar kebutuhan cinta dan kasih, dan bukan karena aji mumpung atau pun iri terhadap teman yg sudah menikah lebih dulu.

Beririhatilah untuk menjadi lebih baik untuk diri sendiri, pasangan, dan keluarga dengan tidak merugikan orang lain.

Sumber: otak dan hati yang sedang gila.

Nanda Widyatama

Seorang web developer. Gemar diajak kuliner. Suka fotografi. Sering ngedit sana ngedit sini. Suami yang siaga.