Malam tadi, 25 Januari 2021, saya mendapat sebuah email dari Chelsea FC. Sekedar pemberitahuan bahwa manajemen Chelsea sudah sepakat memutus kontrak Frank Lampard sebagai Pelatih Kepala. Setelah 18 bulan memimpin Chelsea, bangkit dari keterpurukan musim lalu, finish di empat besar liga Inggris, finalis FA Cup, hingga akhirnya berpisah, setelah Chelsea tidak mengalami kemajuan paruh musim ini.

This has been a very difficult decision, and not one that the owner and the Board have taken lightly


Merupakan keputusan yang sulit baik bagi pemilik maupun Dewan

“We are grateful to Frank for what he has achieved in his time as Head Coach of the Club. However, recent results and performances have not met the Club’s expectations, leaving the Club mid-table without any clear path to sustained improvement.”

“Kami berterimakasih kepada Frank (Lampard) atas semua pencapaiannya sebagai Pelatih Kepala. Namun, saat ini, hasil dan penampilan tim belum mampu memenuhi ekspektasi klub, bertengger di papan tengah klasemen tanpa isyarat perkembangan yang jelas.”

“There can never be a good time to part ways with a club legend such as Frank, but after lengthy deliberation and consideration it was decided a change is needed now to give the Club time to improve performances and results this season.”

“Perpisahan tidak pernah mudah, apalagi dengan seorang legenda klub seperti Frank, namun setelah pertimbangan dan pembahasan yang panjang, sudah saatnya perubahan dilakukan demi perbaikan performa dan hasil bagi klub.”


Kira-kira mengapa Super Frank gagal di musim keduanya sebagai pelatih? Padahal musim lalu mampu mengangkat performa Chelsea setelah kehilangan Eden Hazard, hanya dengan berbekal pemain akademi seperti Mason Mount, Tammy Abraham, Hudson Odoi, Ruben Loftus Cheek. Sedangkan di musim ini sebagian dari mereka masih tetap bertahan di tim inti, kecuali Ruben yang dipinjamkan ke Fulham.

Bahkan nama-nama seperti Mason Mount dan Tammy Abraham tetap bertengger di starting lineup. Didukung pemain-pemain baru dengan nama besar. Bayangkan saja, lebih dari 200 juta pounds digelontorkan untuk mendatangkan nama-nama besar. Sebut saja Hakim Ziyech, Timo Werner, Kai Havertz menggantikan Willian, Pedro, dan Ross Barkley.

Namun harapan fans untuk melihat gelontoran gol Werner dan Havertz belum memenuhi ekspektasi. Paling-paling hanya Ziyech yang menampilkan permainan cantik yang menarik untuk ditonton. Walaupun jika dilihat secara langsung, permainan Werner dan Havertz tidak jelek-jelek amat. Yang membedakan hanyalah kepercayaan diri yang belum 100%.

Jadi mengapa Lampard belum bisa berhasil mengangkat performa Chelsea. Menurut saya, itu butuh waktu. Berbeda dengan mengelola pemain muda akademi, yang sudah memiliki chemistry yang baik satu sama lain. Pemain baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Satu pemain baru berlabel bintang akan menjadi suntikan yang baik bagi performa tim, namun tiga atau lebih pemain bintang baru, akan sulit beradaptasi bersamaan. Sehingga mereka, butuh waktu.


Memang tidak ada yang abadi. Masih ingatkah kalian, saat pada akhirnya, pencetak gol terbanyak untuk Chelsea tersebut harus menandatangani kontrak dengan New York City? Dimana pada akhirnya harus menjadi pemain Manchester City untuk paruh musim? Yang kemudian mencetak gol, kemenangan City terhadap klub yang dicintainya? Masih ingatkah bagaimana raut muka Frank saat melakukan selebrasi?

Yang jelas, terkadang perpisahan harus dilakukan. Frank Lampard merupakan pemain legenda Chelsea, dan yakin seluruh fans Chelsea mengamininya.

Pada akhirnya big bos Abramovich harus merelakan Lampard untuk diganti dengan pelatih yang lebih tegas dan dihormati. Semoga pelatih baru dapat memberi suntikan semangat yang baru bagi tim.

Thank you Frank. We’ll meet again soon.