Melanglang ke Ketep Pass Magelang

Minggu pagi ini, saya bersama motor kesayangan melanglang ke Ketep Pass. Ndak ada niat khusus sih, cuman habis nganter istri (kesayangan juga) berangkat piknik sama teman-teman kerjanya, tiba-tiba ada hasrat ingin liat gunung kembar (beneran loh bukan yang “itu” ). Gunung Merbabu bersanding dengan Gunung Merapi. Harusnya sih kalau mau lihat sunrise sekalian bisa, tapi musti mruput banget. Karena udah kesiangan, dan agak mendung, ya udah relakan aja puncak gunung yang pasti tertutup kabut.

ketep-jalan-1 ketep-jalan-2
Berangkat dari Sleman sekitar jam 8 pagi, alon-alon menikmati jalanan Jogja-Magelang yang belum terlalu macet untungnya. Rutenya sangat gampang, ambil jalur utama Jogja-Magelang ke utara terus, hingga sampai Kec. Blabak yang terkenal dengan kupat tahu-nya. Bangjo Blabak belok kanan ke arah timur laut, lurus terus, nanti ketemu percabangan serong ambil ke kiri, ada plang penunjuk arahnya kok. Nah sampai di ketep pass ada jalan menanjak masuk ke parkirannya, kalau bawa mobil paling nyaman parkir di belakang gedung, kalau naik motor bisa parkir di depan gedung, atau di luar area, nitip sama warga sekitar, tarif parkir motor 2000 rupiah.

Setelah parkir, karena terasa dingin, saya pun memesan jagung bakar manis, yumm enak dab, anget-anget kemranyas. Harga sama, 4000 rupiah, di setiap penjual, jadi silahkan milih penjual yang mbakar aja sebagai daya saing penjualan, saya mah milih mas-mas sing penak dijak ngobrol.

ketep-nanda-suthangSambil ninting jagung bakar, saya membeli tiket masuk Ketep Pass, 7500 per orang plus 2000 parkir motor. Sekitar jam 9an, lokasi ini belum cukup ramai, saya masih bisa menikmati ketenangan sambil ngrikiti jagung bakar dan ngglogog air mineral. 

Mulai agak ramai, dengan datangnya rombongan-rombongan pigenik, mungkin dari luar kota dilihat dari bahasanya yang lulu-guweguwe dan wajahnya yang putih-putih, ga mirip alien juga, kalau mirip alien pasti bukan dari luar kota, tapi dari luar angkasa. Lalu guwe saya pun mulai menelusuri setiap sudut taman ketep pass.

Di sini warung-warung sepertinya sudah saling menyetujui konvensi harga, sehingga harganya sama antara warung satu dengan yang lain, bentuk sajiannya pun serupa, mendoan (8000 / 10 lembar), jagung bakar (4000), dan makanan sederhana lainnya.

Selain warung, ada beberapa orang berkeliaran memakai seragam menyewakan keker atau teropong untuk melihat puncak Merapi (aneh, kan gunungnya ada dua, Merapi sama Merbabu, tapi kenapa yang ditawarkan hanya untuk melihat puncak Merapi ya, jangan-jangan ini konspirasi kampanye tersembunyi, atau jangan-jangan nanti saat dipakai ngeker Merbabu njuk diminta tambahan biaya, ah selo bahas koyo ngene.. ). Harga sewa teropong 5000 rupiah per sekian menit (saya ga tau pastinya soale ora nyewo juga).

Nah yang beda dengan dulu terakhir kali saya ke sini, sekarang ada penjual seruling yang menghibur para pengunjung dengan alunan nada merdu seruling bambunya. Sungguh nikmat dirasakan (sebelum banyak celoteh anak-anak ABG yang rebutan spot selfie). Sebelum saya pulang, saya sempatkan ngobrol sejenak dengan Mbah No “Raja Suling” begitu beliau menyebut dirinya hohohoho… Tak lupa saya beli seruling bambu 5000 rupiah sebagai kenang-kenangan.

ketep-nanda-ro-mbah-no

ketep-mendoanMendekati puncak siang, saya pun memutuskan menyudahi kunjungan. Sebelum pulang tak lupa membeli oleh-oleh berondong jipang kesukaan mertua dan mendoan kesukaan orangtua. Berondong jipang 12.500an dan mendoan cuman 1000an.

 

Saya pun meluncur pulang, jalan menurun tajam, jangan lupa manfaatkan rem mesin, biar kampas rem awet. Sampai di Blabak, saya sempatkan mampir di Kupat Tahu Dompleng Blabak, langganan saya dan bapak waktu masih sering lewat sini. Hanya 7500 per porsi, jangan lupa kubisnya digoreng ya. 😉

Akhirnya, seperti kata teman saya, jangan lupa bahagia, bahagia itu sederhana, saatnya esok kembali memikirkan pemenuhan kebutuhan duniawi.

Jo podo nelongso

jamane jaman rekoso

Urip pancen angel

kudune (lambene) ra usah ngomel

Nanda Widyatama

Seorang web developer. Gemar diajak kuliner. Suka fotografi. Sering ngedit sana ngedit sini. Suami yang siaga.