Mengapa Harus Lawan Nama Julukan dan #RayakanNamaMu Sekarang?

Baru-baru ini sedang gencar iklan dari CocaCola Indonesia. Hampir di semua media sosial, Facebook, Twitter, Youtube menampilkan iklan tersebut setiap beberapa selang konten. Iklan apaan sih? Iklan tersebut berisi ajakan melawan bullying dengan memakai nama julukan. Ajakan untuk berpartisipasi dengan mengganti avatar akun medsos kita dengan banner bertuliskan “I STAND AGAINST NAME CALLING”. Bencikah kalian dengan nama julukan? Kemudian haruskah kita mengikuti kampanye tersebut? Saya Tidak!

Sebelum kita membahas lebih lanjut, silahkan liat pariwara yang dibuat oleh Coca Cola berikut ini.

Kemudian, apakah kamu punya nama julukan yang diberikan oleh teman-temanmu? Saya punya. Dulu saya sering dipanggil kontet (karena badannya kecil) yang kemudian berubah menjadi Nandol ataupun Kancil. Entah darimana mereka punya ide menjuluki saya seperti itu. Menurut kalian saya korban bullying? Menurut saya TIDAK.

Sudah menjadi kebiasaan bagi bocah Jogja (dan sekitarnya) untuk punya nama julukan atau biasa disebut paraban. Tak semata-mata untuk menghina, namun untuk mempermudah mengingat. Saya pun sering memanggil teman-teman saya dengan paraban mereka. Gini, berapa teman saya yang bernama Agus? banyak. Namun yang saya sebut Gembus biasanya hanya satu. Dan itu menandakan saya akrab dengannya. Ga mungkin kan, kalian bertemu seseorang yang baru kenal bernama Agus dan langsung memanggilnya dengan sebutan Gembus?

Karena memberikan nama julukan membutuhkan kedekatan dan pengenalan yang mendalam antara aku dan kamu.

Nah masalah mental inilah yang harus ditanamkan kepada generasi muda saat ini. JANGAN LEMAH! Lihatlah dari sudut yang berbeda, sudut yang lebih positip.

Jika dipanggil dengan nama julukanmu, jangan marah, jangan takut, jangan gelisah, apalagi sampai terkena mental breakdown. Cih, dunia ini lebih kejam daripada hanya sekedar nama julukan. Banggalah dengan nama julukanmu. Seberapa kenal kalian dengan Margono? kecuali kalian punya tonggo deso yang rutin ronda bernama yang sama, jawaban pasti beraneka ragam. Namun siapa orang Indonesia tidak kenal Gogon Srimulat?

Seperti saya punya teman bernama Sarwo Hadi Setyana. Bagus kan namanya? tapi beliau ini lebih suka dipanggil Gogon. Ada pula Ardhitya Wiedha Irawan yang sering kampleng-kamplengan dengan saya, lebih suka dipanggil Coki (goro-goro nduwe andeng-andeng koyo Coklat Kismis mungkin 😀 ). Atau Harry Yunanto yang sering dipanggil PakCik gegara pernah ke Malaysia ga ngajak-ngajak dan ga ngoleh-olehi.

Mungkin di luar negeri sana, nama julukan itu tidak wajar. Tapi di Jawa, itu simbol keakraban. Pye perasaanmu klo anak memanggil orangtuanya dengan memanggil namanya? bukan dengan mama papa, ayuh ibu, bapak simbok? Opo ra marakke buntet wudele.

Jadi saya tetap mendukung nama julukan/paraban. Toh nama asli tetap melekat di KTP Ijazah dan saat rapat formal di sono.

Namun bukan berarti saya mendukung bullying. Saya benci bullying yang memakai kekerasan fisik, atau mental hingga membuat korban kesakitan. Pakailah bullying untuk keakraban. Karena nama asli mudah terlupakan, namun nama julukan akan melekat dalam ingatan bawah sadar.

Ojo ngece nek ra gelem diece. Ojo ngampleng nek ra gelem dikampleng

Jadi bagi teman-teman yang merasa pernah saya panggil dengan paraban dan maunya dipanggil dengan nama asli, ngomong sama saya langsung. Kelak akan selalu saya panggil dengan nama asli, kalau perlu nama lengkap sak gelar-gelare wis.

Meme_perbedaan-teman-dan-sahabat_[wap.filezombi.com]

l-987

 

 

 

Nanda Widyatama

Seorang web developer. Gemar diajak kuliner. Suka fotografi. Sering ngedit sana ngedit sini. Suami yang siaga.